Kamis, 02 Februari 2012

PERKEMBANGAN EMOSI

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam percakapan keseharian kata ’emosi’ sering diidentikkan dengan ’marah’. Ungkapan seperti ’dia langsung emosi’ untuk mengatakan ’dia langsung marah’. Sebenarnya ’emosi’ tidak sama dengan ’marah’.Sampai sekarang ada puluhan definisi ‘emosi’. Tetapi secara sederhana dapat disebut bahwa emosi merupakan reaksi menyeluruh terhadap orang, peristiwa atau kenyataan kehidupan baik yang menggembirakan atau menyenangkan maupun yang menyakitkan, yang menjengkelkan dan sebagainya. Ed Hindson secara sederhana merumuskannya sebagai berikut: Emosi adalah berbagai perasaan yang ’menyulut’ reaksi kita terhadap tantangan-tantangan kehidupan. Emosi dapat membuat kita menggapai puncak kegembiraan atau menenggelamkan kita ke dalam keputusasaan yang mendalam. Kadang-kadang emosi kita melukai kita sendiri dan kadang-kadang bisa juga mengejutkan kita secara positif.
Sejumlah dokter terkemuka mengatakan bahwa 90% penyakit yang biasa diderita oleh orang pada zaman sekarang ini, ada kaitannya dengan gangguan emosional. Oleh karena itu saya sebagai penulis ingin membahas tentang perkembangan emosi remaja terutama pengaruh emosi terhadap kesehatan remaja.

B. Tujuan
Adapun tujuan penulis adalah :
1. Untuk mengetahui makna perkembangan emosi remaja
2. Untuk mengetahui karakteristik dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja
3. Serta mengetahui perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam perkembangan emosi remaja
4. Dan mengetahui pengaruh emosi terhadap kesehatan remaja.

C. Manfaat
Penulisan makalah ini bisa membuat kita mengetahui hal-hal perkembangan emosi remaja karena saya penulis merasa bahwa perkembangan emosi remaja sangat patut untuk dibahas. Di sini dijelaskan bagaimana emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif misalnya gembira, bahagia, sayang, cinta dan berani. Emosi negatif misalnya rasa benci, takut, marah, geram dan lain-lain. Dan juga di makalah ini juga membahas bagaimana pengaruh emosi terhadap kesehatan remaja.




















BAB II
PEMBAHASAN

PERKEMBANGAN EMOSI
A. Pengertian Emosi
Masa remaja adalah fase perkembangan yang cukup penting. Remaja merupakan tahap perkembangan yang dilematis, dikalangan orang dewasa mereka belum diterima sedangkan disisi lain mereka juga sudah tidak ingin dikatakan sebagai anak-anak lagi. Masa remaja sering disebut masa yang labil penuh dengan gejolak kejiwaan dan problematika karena ketidakstabilan emosi.
Remaja, yang dalam bahasa aslinya disebut adolescense, berasal dari bahasa Latin adolescere yang artinya berangsur-angsur atau berangsur-angsur untuk mencapai kematangan. Jadi remaja artinya berangsur-angsur menuju kematangan fisik, akal, kejiwaan dan sosial serta emosional.
Menurut Hurlock (1991:9) remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia di mana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar.
Jadi remaja adalah fase yang secara berangsur-angsur menuju kematangan fisik, akal, jiwa, sosial serta emosi sehingga tidak merasa di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan sejajar.
Remaja mengalami suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi, terutama karena berada dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru. Oleh karena itu, sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan emosi dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru. Meskipun emosi remaja sering sangat kuat, tidak terkendali, dan nampaknya irrasional, tetapi pada umumnya dari tahun ke tahun terjadi perbaikan perilaku emosional.
Pergolakan emosi yang terjadi pada remaja tidak terlepas dari bermacam-macam pengaruh, seperti lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah, dan teman-teman sebaya serta aktivitas-aktivitas yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Masa remaja identik dengan lingkungan sosial tempat beraktivitas, membuat mereka dituntut untuk dapat menyesuaikan diri secara efektif.
Setiap remaja memiliki emosi yang berbeda-beda dan biasanya hal itu tergantung dari susana hatinya dan kadang juga dipengaruhi dari situasi dilingkungannya. Perasaan emosi remaja ada yang negatif ada pula yang positif.
Emosi adalah perasaan yang kita alami (Albin.1986: 11). Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu.Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian.Emosi merupakan gejala perasaan yang disertai dengsn perubahan atau perilaku fisik (Sunarto.1994: 21). Emosi dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang, ataupun takut terhadap sesuatu. Kata "emosi" diturunkan dari kata bahasa Perancis, émotion, dari émouvoir, 'kegembiraan' dari bahasa Latin emovere, dari e- (varian eks-) 'luar' dan movere'bergerak'. Kebanyakan ahli yakin bahwa emosi lebih cepat berlalu daripada suasana hati. Sebagai contoh, bila seseorang bersikap kasar, manusia akan merasa marah. Perasaan intens kemarahan tersebut mungkin datang dan pergi dengan cukup cepat tetapi ketika sedang dalam suasana hati yang buruk, seseorang dapat merasa tidak enak untuk beberapa jam.
Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam emosi dan pengertian emosi, antara lain
a. Descrates. Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan).
b. JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta).
c. James & Lange berpendapat bahwa emosi itu timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan individu. Misalnya menangis itu karena sedih, tertawa itu karena gembira.
d. Lindsley berpendapat bahwa emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan syaraf terutama otak, misalnya apabila individu mengalami frustasi, susunan syaraf bekerja sangat keras yang menimbulkan sekresi kelenjar-kelenjar tertentu yang dapat mempertinggi pekerjaan otak, maka hal itu menimbulkan emosi.
e. Crow & Crow (1958) pengertian emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik yang berwujud suatu tingkah laku yang tampak.
f. Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu :
1. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati
2. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa
3. Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri
4. Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga
5. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, dan kemesraan.
6. Terkejut : terkesiap, terkejut
7. Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka
8. malu : malu hati, kesal
Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada.
g. DalamKamusPsikologiyaitu Mu’jamIlm al-Nafs, mentakrifkan emosi sebagai infi’al yaitu keadaan dalaman yang menunjukkan pengalaman dan perbuatan didzahirkan dalam suatu peristiwa yang berlaku seperti perasaan takut, marah, kecewa, gembira, suka dan duka.
h. Dalam Encyclopedia of Social Psychology, mentakrifkan emosi sebagai hasil tindak balas kepada sesuatu kejadian atau peristiwa termasuk tindak balas psikologikal, tindak balas tingkah laku, tindak balas kognitif dan perasaan dialami sama ada menggembirakan atau tidak.
Dalam the Nicomachea Ethics pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi. Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan (Goleman, 2002 : xvi).
Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang di jalani menjadi sia-sia.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.
Perkembangan emosi remaja pada peringkat awal terutama pada zaman kanak-kanak banyak dipengaruhi melalui pelaziman dan cara peniruan. Cara pelaziman berlaku dengan mudah dan cepat pada masa beberapa tahun permulaan hidup mereka. Kanak-kanak menggunakan daya imaginasi dalam membayangkan sesuatu mengikut yang telah dilazimkan. Cara peniruan pula, kanak-kanak meniru tingkah laku emosi yang diperhatikannya pada orang lain dan memberikan gerak balas terhadap perkara berkenaan dengan cara yang tidak dapat dibuatnya dulu. Oleh karena itu, emosi remaja pada zaman kanak-kanak berkembang mengikut proses pelaziman dan peniruan.
Ibu bapak adalah orang pertama yang menjadi contoh kepada anak-anak remaja. Jika ibu bapak berkelakuan buruk, bertindak keras dan menganiaya anak-anak, emosi dan tingkah lakunya akan turut menyeleweng karena sejak kecil jiwa mereka ditanam dengan bibit kerusakan. Ketika usia remaja pula, emosi berkembang dengan pesat hasil dari pada kematangan dan pembelajaran. Itulah sebabnya bentuk pernyataan emosi pada zaman remaja banyak bergantung kepada apa yang dipelajarinya daripada masyarakat sekeliling.

B. Ciri-ciri Emosi Remaja
a. Karakteristik Perkembangan Emosi Remaja
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode badai dan tekanan, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi terutama karena remaja laki-laki dan perempuan berada dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu.
Tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan. Namun benar, sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola prilaku baru dan harapan sosial yang baru.
Pola emosi remaja adalah sama dengan pola emosi kanak-kanak, perbedaan yang terlihat terletak pada macam dan derajat rangsangan yang mengakibatkan emosinya dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi remaja. Jenis emosi yang secara normal dialami remaja adalah:
a. Cinta atau kasih sayang
Faktor penting dalam kehidupan remaja adalah kapasitasnya untuk mencintai orang lain dan kebutuhannya untuk mendapatkan cinta dari orang lain. Kemampuan untuk menerima cinta sama pentingnya dengan kemampuan untuk memberinya.
Walaupun remaja bergerak ke dunia pergaulan yang lebih luas, dalam dirinya masih terdapat sifat kekanak-kanakanya. Remaja membutuhkan kasih sayang di rumah yang sama banyaknya dengan apa yang mereka dialami pada tahun-tahun sebelumnya.
Tidak ada remaja yang dapat hidup bahagia dan sehat tanpa mendapatkan cinta dari orang lain. Kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta menjadi sangat penting, walaupun kebutuhan-kebutuhan akan perasaan itu disembunyikan secara rapi. Para remaja yang berontak secara terang-terangan, nakal dan mempunyai sikap permusuhan besar, hal tersebut disebabkan oleh kurangnya rasa cinta dan dicintai yang tidak disadari.
Kebutuhan akan kasih sayang dapat diekspresikan jika seseorang mencari pengakuan dan kasih sayang dari orang lain, baik orang tua, teman dan orang dewasa lainnya. Kasih sayang akan sulit untuk dipuaskan pada suasana yang mobilitas tinggi. Kebutuhan akan kasih sayang dapat dipuaskan melalui hubungan yang akrab dengan yang lain. Kasih sayang merupakan keadaan yang dimengerti secara mendalam dan diterima dengan sepenuh hati, kegagalan dalam mencapai kepuasan kebutuhan kasih sayang merupakan penyebab utama dari gangguan emosional
b. Gembira dan bahagia
Perasaan gembira pada remaja belum banyak diteliti. Perasaan gembira sedikit mendapat perhatian dari petugas peneliti dari pada perasaan marah dan takut atau tingkah laku lain yang memantulkan kesedihan. Rasa gembira akan dialami apabila segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan para remaja akan mengalami kegembiraan jika ia diterima sebagai seorang sahabat atau apabila ia jatuh cinta dan cintanya itu mandapat sambutan oleh yang dicintai.
Perasaan bahagia ini dihayati secara berbeda-beda oleh setiap individu. Bahagia muncul karena remaja mampu menyesuaikan diri dengan baik pada suatu situasi, sukses dan memperoleh keberhasilan yang lebih baik dari orang lain atau berasal dari terlepasnya energi emosional dari situasi yang menimbulkan kegelisahan dirinya.
c. Kemarahan dan Permusuhan
Sejak masa kanak-kanak, rasa marah telah dikaitkan dengan usaha remaja untuk mencapai dan memiliki kebebasan sebagai soerang pribadi yang mandiri. Rasa marah merupakan gejala yang penting diantara emosi-emosi yang memainkan peranan yang menonjolkan dalam perkembangan kepribadian.
Dalam upaya memahami remaja, ada empat faktor yang sangat penting sehubungan dengan rasa marah.
1) Adanya kenyataan bahwa perasaan marah berhubungan dengan usaha manusia untuk memiliki dirinya dan menjadi dirinya sendiri. Selama masa remaja, fungsi marah terutama untuk melindungi haknya untuk menjadi independent dan menjamin hubungan antara dirinya dan pihak lain yang berkuasa.
2) Pertimbangan penting lainnya ialah ketika individu mencapai masa remaja, dia tidak hanya merupakan subjek kemarahan yang berkembang dan kemudian menjadi surut, tetapi juga mempunyai sikap-sikap di mana ada sisa kemarahan dalam bentuk permusuhan yang meliputi kemarahan masa lalu. Sikap permusuhan berbentuk dendam, kesedihan, prasangka atau kecendrungan untuk merasa tersiksa. Sikap permusuhan tampak dalam cara-cara yang bersifat pura-pura, remaja bukannya menampakkan kemarahan langsung tetapi remaja lebih menunjukkan keinginan yang sangat besar.
3) Perasaan marah sengaja disembunyikan dan seringkali tampak dalam bentuk yang samar-samar. Bahkan seni dari cinta mungkin dipakai sebagai alat kemarahan.
4) Kemarahan mungkin berbalik pada dirinya sendiri. Dalam beberapa hal, aspek ini merupakan yang sangat penting dan juga paling sulit dipahami.
d. Ketakutan dan Kecemasan
Ketika anak menuju masa remaja, dia telah mengalami serangkaian perkembangan panjang yang mempengaruhi pasang surut berkenaan dengan rasa ketakutannya. Beberapa rasa takut yang terdahulu telah teratasi, tetapi banyak yang masih tetap ada. Banyak ketakutan-ketakutan baru muncul karena adanya kecemasan dan rasa berani yang bersamaan dengan perkembangan remaja itu sendiri.
Remaja seperti halnya anak-anak dan orang dewasa, seringkali berusaha untuk mengatasi ketakutan yang timbul dari persoalan kehidupan. Tidak ada seorangpun yang menerjunkan dirinya dalam kehidupan dapat hidup tanpa rasa takut. Satu-satunya cara untuk menghindarkan diri dari rasa takut adalah menyerah terhadap rasa takut, seperti terjadi bila seorang begitu takut sehingga ia tidak berani mencapai apa yang ada sekarang atau masa depan yang tidak menentu.
Rasa takut yang disebabkan otoriter orang tua akan menyebabkan anak tidak berkembang daya kreatifnya dan menjadi orang yang penakut, apatis dan penggugup. Selanjutnya sikap apatis yang ditimbulkan oleh otoriter orang tua akan mengakibatkan anak menjadi pendiam, memencilkan diri dan tidak sanggup bergaul dengan orang lain
e. Frustasi dan Dukacita
Frustasi merupakan keadaan saat individu mengalami hambatan-hambatan dalam pemenuhan kebutuhannya, terutama apabila hambatan tersebut muncul dari dirinya sendiri. Konsekuensi frustasi dapat menimbulkan perasaan rendah diri.
Dukacita merupakan perasaan galau atau depresi yang tidak terlalu berat, tetapi mengganggu individu. Keadaan ini terjadi apabila kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat berarti buat kita. Kalau dialami dalam waktu yang panjang dan berlebihan akan menyebabkan kerusakan fisik dan psikis yang cukup serius hingga depresi.
Biehler membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu usia 12-15 tahun dan usia 15-18 tahun.
a. Ciri-ciri emosional usia 12-15 tahun
- Cenderung banyak berdiam diri dan tidak dapat diterka
- Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri
- Kemarahan biasa terjadi
- Cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan ingin selalu menang sendiri
- Mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara objektif

b.Ciri-ciri emosional remaja usia 15-18 tahun
- Pemberontakan remaja merupakan ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak menuju dewasa
- Banyak remaja mengalami konflik dengan orang tua mereka
- Sering kali berimajinasi, memikirkan masa depan mereka

b. Pengaruh Emosi Terhadap Perkembangan Remaja
Secara garis besar pengaruh emosi terhadap perkembangan remaja dikelompokan dalam dua kategori, yakni pengaruh emosi terhadap tingkah laku remaja dan pengaruh emosi terhadap perubahan fisik remaja serta pengaruh emosi terhadap kesehatan remaja . Dibawah ini adalah beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku remaja di antaranya sebagai berikut:
a. Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas atas hasil yang telah dicapai.
b. Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini ialah timbulnya rasa putus asa (frustasi).
c. Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar, apabila sedang mengalami ketegangan emosi dan dapat juga menimbulkan sikap gugup (nervous) dan gagap dalam berbicara.
d. Terganggu penyesuaian sosial, apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati.
e. Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan mempengarui sikapnya dikemudian hari, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.
Sedangkan perubahan emosi terhadap perubahan fisik (jasmani) remaja antara lain:
a. Peredaran darah: bertambah cepat apabila marah.
b. Denyut jantung: bertambah cepat apabila terkejut.
c. Pernapasan: bernapas panjang apabila kecewa.
d. Pupil mata: membesar apabila marah .
e. Liur: mengering apabila takut atau tegang.
f. Bulu roma: berdiri apabila takut.
g. Pencernaan: mencret-mencret apabila tegang.
h. Otot: ketegangan dan ketakutan menyebabkan otot menegang atau bergetar.
i. Komposisi darah: komposisi darah akan ikut berubah karena emosional yang menyebabkan kelenjar-kelenjar lebih aktif.

c. Pengaruh Emosi Terhadap Kesehatan
Kesehatan kita sangat dipengaruhi oleh emosi kita. Emosi ini berupa pikiran kita, baik pikiran positif maupun pikiran negatif. Dengan adanya pikiran yang positif, maka kita dapat merasakan timbulnya rasa optimis dalam diri kita. Pada akhirnya pengaruh ke tubuh kita akan terasa sehat dan selalu semangat dalam menjalankan kehidupan. Sebaliknya orang yang suka atau selalu berpikir negatif cenderung akan mudah sakit. Disebabkan orang yang seperti itu akan kehilangan keseimbangan tubuhnya.
Emosi negatif juga akan membentuk resonansi dengan virus. Salah satu contoh adalah penyakit flu. Salah satu penyebab flu adalah virus. Apabila kita mempunyai pikiran bahwa musim ini akan banyak terjadi penyakit flu karena adanya perubahan cuaca dari panas ke musim dingin ataupun sebaliknya. Dan hal tersebut menjadikan emosi dan pikiran kita negatif. Dengan adanya emosi negatif yang ada dalam pikiran, kita mulai memikirkan flu tersebut.
Sebaliknya, apabila kita berpikiran positif sehingga mempunyai rasa optimis, maka kita tidak mungkin ada kepikiran tentang flu tersebut. Dalam benak kita yang terbanyang hanyalah rutinitas kegiatan kita sehari-hari. Maka yang gampang terkena flu, yaitu yang memepunyai pikiran negatif karena dapat merasakan dan mendapatkan penngaruh buru tadi.
Dari pikiran atau emosi negatif tersebut yang diterima tubuh akan berpengaruh terhadap kesehatan. Dengan demikian, pada intinya semua yang ada dalam pikiran baik pikiran negatif maupun positif akan mempengaruhi terhadap kehidupan kita, baik mengenai kesehatan maupun kehidupan yang lainnya.
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi emosi remaja
Sejumlah penelitian tentang emosi remaja menunjukkan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung kepada faktor kematangan dan faktor belajar. Reaksi emosional yang tidak muncul pada awal kehidupan tidak berarti tidak ada, reaksi tersebut mungkin akan muncul dikemudian hari. Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lainnya dalam mempengaruhi perkembangan emosi.
Selain faktor pendidikan dan kematangan, ada lima fakto dasar yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja, yaitu:
a. Perubahan jasmani.
b. Perubahan pola interaksi dengan orang tua.
c. Perubahan interaksi dengan teman sebaya.
d. Keterampilan kognitif.
e. Perubahan interaksi dengans sekolah.
Untuk mencapai kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Adapun caranya adalah dengan membicarakan berbagai masalah pribadinya dengan orang lain. Keterbukaan, perasaan dan masalah pribadi dipengaruhi sebagian oleh rasa aman dalam hubungan sosial dan sebagian oleh tingkat kesukaannya pada orang sasaran.
Metode belajar yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja antara lain :
a. Belajar dengan coba-coba
Remaja belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan.
b. Belajar dengan cara meniru
Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain. Remaja bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamatinya.
c. Belajar dengan mempersamakan diri
Remaja menyamakan dirinya dengan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya. Yaitu menirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama.
d. Belajar melalui pengkondisian
Dengan metode ini objek situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. Penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka, setelah melewati masa remaja.
e. Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan
Dengan pelatihan, remaja dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasa membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional yang tidak menyenangkan.
Remaja memperhalus ekspresi-ekspresi kemarahannya atau emosi lain ketika ia beranjak dari masa kanak-kanak menuju masa remaja. Mendekati berakhirnya dewasa, seorang remaja telah melewati banyak badai emosional, ia mulai mengalami keadaan emosional yang lebih tenang dan telah belajar dalam seni menyembunyikan perasaan-perasaannya. Jadi, emosi yang ditunjukan mungkin merupakan selubung yang disembunyikan. Contohnya, seorang yang merasa ketakutan tetapi menunjukan kemarahan dan seseorang yang sebenarnya hatinya terluka tetapi ia malah tertawa, sepertinya ia merasa senang.
Para remaja semasa kanak-kanak, mereka diberitahu atau diajarkan untuk tidak menunjukan perasaan-perasaannya, baik perasaan takut ataupun sedih. Akhirnya seringkali mereka takut dan ingin menangis tetapi tidak berani menunjukan perasaan tersebut secara terang-terangan. Kondisi-kondisi kehidupan atau kulturlah yang menyebabkan mereka merasa perlu untuk menyembunyikan perasaan-perasaannya. Tidak hanya perasaan-perasaannya terhadap orang lain saja, namun pada derajat tertentu bahkan ia dapat kehilangan atau tidak merasakan lagi.
Dengan bertambahnya umur, menyebabkan terjadinya perubahan dalam ekspresi emosional. Bertambahnya pengetahuan dan pemanfaatan media massa atau keseluruhan latar belakang pengalaman, berpengaruh terhadap perubahan-perubahan emosional ini.

e. Usaha guru dan orang tua dalam mengembangkan emosi positif remaja
Rasa marah, kesal, sedih atau gembira adalah hal yang wajar yang tentunya sering dialami remaja meskipun tidak setiap saat. Pengungkapan emosi itu ada juga aturannya. Supaya dapat mengekspresikan emosi secara tepat, remaja memperlukan pengendalian emosi. Akan tetapi, pengendalian emosi ini bukan merupakan upaya untuk menekan atau menghilangkan emosi melainkan:
a. Belajar menghadapi situasi dengan sikap rasional
b. Belajar mengenali emosi dan menghindari dari penafsiran yang berlebihan terhadap situasi yang dapat menimbulkan respon emosional. Untuk dapat menanfsirkan yang obyektif, coba tanya pendapat beberapa orang tentang situasi tersebut.
c. Bagaimana memberikan respon terhadap situasi tersebut dengan pikiran maupun emosi yang tidak berlebihan atau proporsional, sesuai dengan situasinya, serta dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan social
d. Belajar mengenal, menerima, dan mengekspresikan emosi positif (senang, sayang, atau bahagia dan emosi negatif (khawatir, sedih, atau marah)
Kegagalan pengendalian emosi biasanya terjadi karena tidak ada keiinginan pada remaja untuk menilai sesuatu dengan kepala dingin. Kegagalan mengekspresikan emosi juga karena kurang mengenal perasaan dan emosi diri sendiri sehingga jadi salah kaprah dalam mengekspresikannya.
Karena itu, keterampilan mengelola emosi sangatlah penting supaya dalam proses kehidupan remaja dapat lebih sehat secara emosional. Berikut adalah cara untuk mengembangkan dan mengelola emosi pada remaja:
a. Belajar mengembangkan kesadaran diri
Caranya adalah mengamati sendiri dan mengenali perasaan sendiri, menghimpun kosakata untuk mengungkapkan perasaan, serta memahami hubungan antara pikiran, perasaan dan respons emosional.
b. Belajar mengambil keputusan pribadi
Caranya adalah mencermati tindakan-tindakan dan akibat-akibatnya, memahami apa yang menguasai keputusan, pikiran, atau perasaan, serta menerapkan pemahaman ini ke masalah-masalah yang cukup berat, seperti masalah seks dan obat terlarang.
a. Belajar mengelola perasaan
Caranya adalah memantau pembicaraan sendiri untuk menangkap pesan-pesan negatif yang terkandung di dalamnya, menyadari apa yang ada di balik perasaan (misalnya, sakit hati yang mendorong amarah), menemukan cara-cara menangani rasa takut , cemas, amarah, dan kesedihan.
b. Belajar menangani stres
Caranya adalah mempelajari pentingnya berolahraga, perenungan yang terarah dan metode relaksasi.
c. Belajar berempati
Caranya adalah memahami perasaan dan masalah orang lain, berpikir dengan sudut pandang orang lain, serta menghargai perbedaan perasaan orang lain mengenai sesuatu.
d. Belajar berkomunikasi
Caranya adalah berbicara mengenai perasaan yang secara efektif, yaitu belajar menjadi pendengar dan penanya yang baik, membedakan antara apa yang dilakukan atau yang dikatakan seseorang dengan reaksi atau penilaian sendiri tentang sesuatu, serta mengirimkan pesan dengan sopan dan bukannya mengumpat.
e. Belajar membuka diri
Caranya adalah menghargai keterbukaaan dan membina kepercayaan dalam suatu hubungan serta mengetahui situasi yang aman untuk membicarakan tentang perasaan diri sendiri.
f. Belajar mengembangkan pemahaman
Caranya adalah mengidentifikasi pola-pola kehidupan emosional dan reaksi-reaksinya serta mengenali pola-pola serupa pada orang lain.
g. Belajar menerima diri sendiri
Caranya adalah merasa bangga dan memandang diri sendiri dari sisi positif, mengenali kekuatan dan kelemahan diri sendiri, serta belajar mampu untuk menertawakan diri sendiri.
h. Belajar mengembangkan tanggung jawab pribadi
Caranya adalah belajar rela memikul tanggung jawab, mengenali akibat-akibat dari keputusan dan tindakan pribadi, serta menindaklanjuti komitmen yang telah dibuat dan disepakati.
i. Belajar mengembangkan ketegasan
Caranya adalah dengan mengungkapkan keprihatinan dan perasaan diri sendiri tanpa rasa marah atau berdiam diri.
j. Mempelajari dinamika kelompok
Caranya adalah mau bekerja sama, memahami kapan dan bagaimana memimpin, serta kapan harus mengikuti.
k. Belajar menyelasaikan konflik
Caranya adalah memahami bagaiamana melakukan konfrontasi secara jujur dengan orang lain, orang tua, guru serta memahami contoh penyelesaian untuk merundingkan atau menyelesaikan suatu perselisihan.
Untuk membantu mengembangkan emosi positif dalam diri siswa/anak, baik orang tua maupun guru hendaknya melaksanakan hal-hal sebagai berikut :
f. Orang tua dan guru serta orang dewasa lainnya dalam lingkungan anak (significant person) hendaknya dapat menjadi model dalam mengekspresikan emosi-emosi negatif sehingga tampilannya tidak meledak-ledak.
g. Adanya program latihan beremosi baik di sekolah maupun dalam keluarga, mmisalnya dalam merespon dan menyikapi sesuatu yang tidak berjalan sebagai mestinya.
h. Mempelajari dan mendiskusikan secara mendalam kondisi-kondisi yang cenderung menimbulkan emosi negatif, dan upaya-upaya menaggapinya secara lebih baik.(Mujiran. 2007 :92)

Dalam kehidupan sehari-hari remaja harus berlatih untuk melakukan dialog dengan diri sendiri dalam menghadapi setiap masalah, bersikap positif dan optimistis, serta mampu mengembangkan harapan yang realistis. Remaja juga harus mampu menafsirkan isyarat-isyarat sosial. Artinya, mengenali pengaruh sosial terhadap perilaku remaja dan melihat dampak perilaku remaja, baik terhadap diri sendiri maupun masyarakat dimana remaja berada. Remaja juga harus dapat memilih langkah-langkah yang tepat dalam setiap penyelesaian masalah yang remaja hadapi dengan mempertimbangkan resiko yang akan terjadi . 

















BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu.Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian.Emosi dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang, ataupun takut terhadap sesuatu. Kata "emosi" diturunkan dari kata bahasa Perancis, émotion, dari émouvoir, 'kegembiraan' dari bahasa Latin emovere, dari e- (varian eks-) 'luar' dan movere'bergerak'. Kebanyakan ahli yakin bahwa emosi lebih cepat berlalu daripada suasana hati.
Emosi merupakan pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Secara garis besar pengaruh emosi terhadap perkembangan remaja dikelompokan dalam dua kategori, yakni pengaruh emosi terhadap tingkah laku remaja dan pengaruh emosi terhadap perubahan fisik dan kesehatan remaja.
Jenis emosi yang secara normal dialami remaja antara lain cinta, gembira, marah, takut, cemas, sedih dan sebagainya. Perkembangan emosi pada remaja bergantung kepada faktor kematangan dan faktor belajar.
Suasana emosional yang penuh tekanan di dalam keluarga berdampak negatif terhadap perkembangan remaja. Sebaliknya suasana penuh kasih sayang, ramah dan bersahabat amat mendukung pertumbuhan remaja yang menjadikan remaja lebih sehat secara emosional.
Dengan meningkatnya usia remaja, semua emosi diekspresikan secara lebih lunak karena mereka telah mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang berlebihan, sekalipun emosi itu berupa kegembiraan atau emosi yang menyenangkan lainnya. Sehingga ekspresi emosional pada remaja berbeda. Perbedaan itu sebagian disebabkan oleh keadaan fisik remaja, taraf kemampuan intelektual remaja dan sebagian lagi disebabkan oleh kondisi lingkungan.




B. Kritik dan Saran
Untuk membangun emosi yang positif, penulis menyarankan kepada para remaja untuk mempunyai keterampilan dalam hal mengelola dan mengendalikan emosi. Pengelolaan dan pengendalian emosi akan menjadikan remaja lebih sehat secara emosional dan akan menentukan tingkah laku dan pola pikir remaja.
Karena ruang lingkup makalah ini terbatas, penulis menyarankan kepada berbagai pihak yang tertarik untuk membahas mengenai masalah yang sama, agar melakukan pembahasan lebih mendalam dengan menggunakan ruang lingkup penelitian yang lebih luas.
















DAFTAR PUSTAKA

Albin, Rochelle Semmuel. 1986. Emosi. Yogyakarta : Konisius.
Goleman, Daniel. 1995. Kecerdasan Emosional. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Gunarsa, Singgih. 1990. Dasar & Teori Perkembangan Anak. Jakarta : PT BPK Gunung mulia.
Hurlock, B. 1990. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga.
http://belajarpsikologi.com/pengertian-emosi/
http://coba dibaca-PENGARUH EMOSI TERHADAP KESEHATAN.htm
http://de-kill.blogspot.com/2009/01/gejolak-emosi-remaja.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Emosi
Mujiran. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Padang : UNP Press.
Mudjiran, dkk. 1999. Perkembangan Peserta Didik. Padang : UNP Press.
Sarwono, Sarlito W. 1991. Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali Press
Sunarto dan Agung Hartoono. 1994. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : Depdikbud.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar