Kamis, 02 Februari 2012

PENDIDIKAN SEBAGAI SISTEM

PENDIDIKAN SEBAGAI SISTEM

Pengertian Sistem
Sistem adalah suatu rangkaian keseluruhan kebulatan kesatuan dan komponen-komponen yang salin berinteraksi atau interdependensi dalam mencapai tujuan. Suatu system mengandung hal-hal sebagai berikut :
• Adanya suatu kesatuan organis
• Adanya komponen yang membentuk kesatuan organis
• Adanya hubungan keterkaitan antara komponen satu dengan yang lain
• Adanya gerak dan dinamika
• Adanya tujuan yang ingin dicapai

Sistem pendidikan akan selalu bersifat dinamis, kontekstual dan untuk itu suatu system pendidikan haruslah terbuka terhadap tuntutan kualitas dan relevansi.

Komponen-Komponen Upaya Pendidikan
Upaya pendidikan merupakan aktifitas yang kompleks yang melibatkan sejumlah komponen pendidikan yang saling berinteraksi atau interdependensi satu sama lain. Komponen sentral dalam upaya pendidikan adalah peserta didik, pendidik, dan tujuan pendidikan. Dalam interaksi pendidikan dapat mencakup apa yang dilakukan oleh pendidik dan apa yang dipakai dalam interaksi, suatu tempat dimana terjadi proses pendidikan.

Saling Hubungan antar Komponen
Proses pendidikan terjadi apabila antar komponen pendidikan yang ada di dalam upaya pendidikan itu saling berhubungan secara fungsional dalam satu kesatuan yang terpadu.
Dalam suatu proses pendidikan, pendidik memiliki tujuan pendidikan yang hendak dicapai kepentingan peserta didik. Untuk mencapai tujuan ini disamping ada berbagai sumber yang dapat dimanfaatkan oleh pendidik dan peserta didik untuk memperkaya isi pendidikan, pendidik juga menggunakan metode dan alat pendidikan.

Pencapaian Tujuan yang diinginkan
Untuk mencapai tujuan pendidikan perlulah disusun dan difungsionalkan suatu sistem, penyelenggaraan pendidikan yang baik. Berbagai komponen dalam sistem perlu dikenali, dipahami dan dikembngkan secara seksama, sehingga kelemahan masing-masing komponen dapat diketahui. Apabila suatu upaya pendidikan dirasa kurang berhasil maka pendekatan sistem menasihatkan untuk mengkaji komponen yang perlu diperbaiki. Apabila sebagian besar komponen ternyata tidak mungkin lagi berfungsi secara baik maka perlu diadakan pembaharuan keseluruhan komponen.
Berdasar uraian diatas pendekatan sistem terhadap upaya pendidikan dapat menghasilkan kebijakan yang berupa pembaharuan sebagian atau menyeluruh.

Tantangan Sistem Pendidikan
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang spektakuler memaksa setiap bangsa senantiasa berupaya untuk menjadikan sistem pendidikan yang dimilkinya lebih dinamis dan lebih responsive terhadap perubahan-perubahan sstem pendidikan dituntut memiliki 3 aspek, yaitu :
• Kemampuan untuk mengetahui pola perubahan dan kecenderungan yang sedang berjalan.
• Kemampuan untuk menyusun gambar tentang dampak yang akan ditimbulkan oleh kecenderungan yang sedang berjalan.
• Kemampuan untuk menyusun program-program penyesuaian diri.

KOMPONEN-KOMPONEN PENDIDIKAN

Setelah membahas konsiep-konsep dasar pendidikan, timbullah pemikiran tentang hal-hal apakah yang terdapat dalam proses pendidikan. Perhatian pada proses terjadinya pendidikan mengarahkan pada pemikiran tentang komponen-komponen pendidikan. Komponen merupakan bagian dari suatu sistem yang meiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses untuk mencapai tujuan sistem. Komponen pendidikan berarti bagian-bagian dari sistem proses pendidikan, yang menentukan berhasil dan tidaknya atau ada dan tidaknya proses pendidikan. Bahkan dapat diaktan bahwa untuk berlangsungnya proses kerja pendidikan diperlukan keberadaan komponen-komponen tersebut.

Komponen-komponen yang memungkinkan terjadinya proses pendidikan atau terlaksananya proses mendidik yaitu :

A. Tujuan Pendidikan

Tingkah laku manusia, secara sadar maupun tidak sadar tentu berarah pada tujuan. Demikian juga halnya tingkah laku manusia yang bersifat dan bernilai pendidikan. Keharusan terdapatnya tujuan pada tindakan pendidikan didasari oleh sifat ilmu pendidikan yang normatif dan praktis. Sebagai ilmu pengetahuan normatif , ilmu pendidikan merumuskan kaidah-kaidah; norma-norma dan atau ukuran tingkahlaku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia. Sebagai ilmu pengetahuan praktis, tugas pendidikan dan atau pendidik maupun guru ialah menanamkam sistem-sistem norma tingkah-laku perbuatan yang didasarkan kepada dasar-dasar filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan danpendidik dalam suatu masyarakat (Syaifulah, 1981). Langeveld mengemukakan bahwa pandangan hidup manusia menjiwai tingkah laku perbuatan mendidik. Tujuan umum atau tujuan mutakhir pendidikan tergantung pada nilai-nilai atau pandangan hidup tertentu. Pandangan hidup yang menjiwai tingkahlaku manusia akan menjiwai tingkahlaku pendidikan dan sekaligus akan menentukan tujuan pendidikan manusia.

Langeveld mengemukakan jenis-jenis tujuan pendidikan terdiri dari tujuan umum, tujuan tak lengkap, tujuan sementara, tuuan kebetulan dan tujuan perantara. Pembagian jenis-jenis tujuan tersebut merupakan tinjauan dari luas dan sempit tujuan yang ingin dicapai.
Urutan hirarkhis tujuan pendidikan dapat dilihat dalam kurikulum pendidikan yang terjabar mulai dari :
• Cita-cita nasional/tujuan nasional (Pembukaan UUD 1945)
• Tujuan Pembangunan Nasional (dalam Sistem Pendidikan Nasional)
• Tujuan Institusional (pada tiap tingkat pendidikan/sekolah)
• Tujuan kurikuler (pada tiap-tiap bidang studi/mata pelajran atau kuliah)
• Tujuan instruksional yang dibagi menjadi dua yaitu tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus.

Dengan demikian tampak keterkaitan antara tujuan instruksional yang dicapai guru dalam pembelajaran dikelas, untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari falsafah hidup yang berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945.
Jadi intinya tujuan pendidikan berfungsi untuk memberikan arah terhadap semua kegiatan dalam proses pendidikan.

B. Peserta Didik
Fungsinya adalah sebagai objek yang sekaligus sebagai subjek pendidikan. Sebagai objek , peserta ddik tersebut menerima perlakuan-perlakuan tertentu, tetapi dalam pandangan pendidikan modern , peserta didk lebih dekat dikatakan sebagai subjek atau pelaksanaan pendidikan.
Perkembangan konsep pendidikan yang tidak hanya terbatas pada usia sekolah saja memberikan konsekuensi pada pengertian peserta didik. Kalau dulu orang mengasumsikan peserta didik terdiri dari anak-anak pada usia sekolah, maka sekarang peserta didik dimungkinkan termasuk juga didalamnya orang dewasa. Mendasarkan pada pemikiran tersebut di atas maka pembahasan peserta didik seharusnya bermuara pada dua hal tersebut di atas.
Persoalan yang berhubungan dengan peserta didik terkait dengan sifat atau sikap anak didik dikemukakan oleh Langeveld sebagai berikut :
Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, oleh sebab itu anak memiliki sifat kodrat kekanak-kanakan yang berbeda dengan sifat hakikat kedewasaan. Anak memiliki sikap menggantungkan diri, membutuhkan pertolongan dan bimbingan baik jasmaniah maupun rohaniah. Sifat hakikat manusia dalam pendidikan ia mengemukakan anak didik harus diakui sebagai makhluk individu dualitas, sosialitas dan moralitas. Manusia sebagai mahluk yang harus dididik dan mendidik.
Sehubungan dengan persoalan anak didik disekolah Amstrong 1981 mengemukakan beberapa persoalan anak didik yang harus dipertimbangkan dalam pendidikan. Persoalan tersebut mencakup apakah latar belakang budaya masyarakat peserta didik ? bagaimanakah tingkat kemampuan anak didik ? hambatan-hambatan apakah yang dirasakan oleh anak didik disekolah ? dan bagaimanakah penguasaan bahasa anak di sekolah ? Berdasarkan persoalan tersebut perlu diciptakan pendidikan yang memperhatikan perbedaan individual, perhatian khusus pada anak yang memiliki kelainan, dan penanaman sikap dan tangggung jawab pada anak didik.
C. Pendidik
Pendidik berfungsi sebagai pembimbing,pengaruh unutk menumbuhkan aktifitas peserta didik dan sekaligus sebagai pemegang tanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan.
Tenaga pendidik sebagai salah satu komponen pendidikan memang merupakan satu faktor dominan dalam mewujudkan tujuan dan sasaran pendidikan, sebagaimana laporan Komisi Nasional Pendidikan Depdiknas, yang menyatakan tersedianya tenaga pendidik berkualitas yang mampu melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran yang efektif serta mampu memanfaatkan fasilitas pendidikan dan situasi yang ada secara maksimal , merupakan faktor utama dalam menentukan kualitas hasil didik. Oleh karena itu , tenaga pendidik di lingkungan Pusdikif perlu senantiasa dioptimalkan kemampuannya agar dapat memberikan bekal kepada para peserta didik secara profesional sehingga dengan kemampuan yang dimiliki dapat menstransferkan ilmunya kepada peserta didik.
Terdapat beberapa jenis pendidik dalam konsep pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang tidak terbatas pada pendidikan sekolah saja. Ditinjau dari lembaga pendidikan muncullah beberapa individu yang tergolong pada pendidik. Guru sebagai pendidik dalam lembaga sekolah, orang tua sebagai pendidik dalam lingkungan keluarga, dan pimpinan masyarakat baik formal maupun informal sebagai pendidik dilingkungan masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut diatas Syaifullah (1982) mendasarkan pada konsep pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang termasuk kategori pendidik adalah 1) orang dewasa, 2) orang tua, 3) guru/pendidik, dan 4) pemimpin kemasyarakatan, dan pemimpin keagamaan.
Guru sebagai pendidik disekolah yang secara lagsung maupun tidak langsung mendapat tugas dari orang tua atau masyarakat untuk melaksanakan pendidikan. Karena itu kedudukan guru sebagai pendidik dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan baik persyaratan pribadi maupun persyaratan jabatan. Persyaratan pribadi didasarkan pada ketentuan yang terkait dengan nilai dari tingkah laku yang dianut, kemampuan intelektual, sikap dan emosional. Persyaratan jabatan (profesi) terkait dengan pengetahuan yang dimiliki baik yang berhubungan dengan pesan yang ingin disampaikan maupun cara penyampainannya, dan memiliki filsafat pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Toto Suharto Mengutip dari pendapat Muraini dan Abdul Majid dalam bukunya mengemukakan tiga fungsi pendidik. Yaitu ;
a. Fungsi Instruksional yang bertugas melaksanakan pengajaran .
b. Fungsi Edukasional yang bertugas mendidik peserta didik agar mencapai tujuan pendidikan.
Dalam pembelajaran mandiri, tutor berperan sebagai fasilitator dan teman bagi peserta didik. Sebagai fasilitator, pendidik dapat membantu peserta didik dalam mengakrabi masalah yang dihadapi peserta didik, dan berupaya agar peserta didik dapat menemukan alternatif pemecahan masalah yang dihadapinya.
Peran lain yang harus dilakukan pendidik adalah sebagai teman. Pendidik berusaha menempatkan dirinya sama dengan peserta didik sebagai peserta yang mengharapkan nilai tambah dalam kehidupannya untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi, serta mengaktualisasikan dirinya.
D. Isi Pendidikan
E. Metode Pendidikan
Metode-metode dalam ilmu pendidikan :
1. Metode normative, berkenaan dengan konsep manusiawi yang diidealkan yang ingin dicapai.
2. Metode eksplanatori, berkenaan dengan pertanyaan kondisi, dan kekauatan apa yang membuat suatu proses pendidikan berhasil.
3. Metode teknologis, berkenaan dengan bagaimana melakukannya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan.
4. Metode deskriptif, fenomenologis mencoba menguraikan kenyataan-kenyataan pendidikan dan lalu mengklasifikasikannya.
5. Metode hermeneutis, untuk memahami kenyataan pendidikan yang konkrit dan historis untuk menjelaskan makna dan struktur dan kegiatan pendidikan.
6. Metode analisis kritis, menganalisis secara kritis tentang istilah, pernyataan, konsep, dan teori yang ada dalam pendidikan.
F. Alat Pendidikan
Alat pendidikan adalah segala upaya atau tindakan atau benda yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan adanya alat pendidikan diharapkan proses pendidikan bisa berjalan dengan lancar dan berhasil.
Ahmad D. Marimba memandang alat pendidikan dari aspek fungsinya, yakni : alat sebagai perlengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan, alat sebagai tujuan untuk mencapai tujuan selanjutnya. Menurut pendapat ini, alat pendidikan bisa berupa usaha / tindakan atau berupa benda / perlengkapan yang bisa memperlancar / mempermudah pencapaian tujuan pendidikan.
a. Bersifat tindakan, yaitu berupa upaya atau siasat dalam kegiatan dengan kewibawaan yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Alat pendidikan yang berupa tindakan, dapat berfungsi sebagai preventif dan represif.
Alat pendidikan preventif
Alat pendidikan preventif ialah alat pendidikan yang bersifat pencegahan. Alat pendidikan preventif diadakan untuk mencegah anak sebelum ia berbuat sesuatu yang tidak baik dan untuk menjaga agar hal-hal yang dapat menghambat atau mengganggu kelancaran proses pendidikan bisa dihindarkan. Alat pendidikan preventif dapat berupa tata tertib, anjuran dan perintah, serta larangan dan paksaan.
Alat pendidikan represif
Alat pendidikan represif disebut juga alat pendidikan kuratif / alat pendidikan korektif. Alat pendidikan represif bertujuan untuk menyadarkan anak untuk kembali kepada hal-hal yang benar, baik, dan tertib apabila terjadi suatu perbuatan yang dianggap bertentangan dengan peraturan-peraturan atau suatu perbuatan yang dianggap melanggar peraturan. Misalnya pemberitahuan, teguran, hukuman dan ganjaran.
Pemilihan alat pendidikan ini harus memperhatikan :
1) Hubungan antar guru dan murid
Hubungan ini berupa kewibawaan guru dihadapan murid dan kepercayaan murid atas kewibawaan tersebut.
2) Perbedaan sifat dan tabiat murid
Antara murid yang satu dan yang lain memiliki tabiat yang berbeda sehingga seorang guru haruslah bijaksana dalam memilih alat pendidikan yang tepat.
3) Gunakan alat yang preventif pada anak yang normal
4) Hati-hati dalam menghukum
Hukuman yang diberikan hendaklah edukatif agar tidak merusak dan merugikan perkembangan kepribadian murid tersebut.
.
b. Alat pendidikan yang berupa kebendaan, sebagai alat bantu yang biasa disebut sarana pengajaran. Penggunaan alat-lat ini harus mempertimbangkan faktor :
1) Tujuan yang ingin dicapai.
2) Alat yang tersedia.
3) Pendidik yang menggunakan.
4) Karakteristik anak didik.
5) Tempat menggunakannya.

Fungsi alat bantu / sarana pendidikan :
a. Merekam, untuk memberikan kemungkinan memproduksi peristiwa-peristiwa yang terjadi saat ini dan masa yang akan dating.
b. Manipulatif, untuk memungkinkan pengamatan terhadap peristiwa-peristiwa yang secara wajar tidak dapat diamati.
c. Stimulatif, untuk menyusun lingkungan belajar yang estetik atau unik untuk meningkatkan motivasi anak didik dalam belajar.
d. Mengingatkan kembali, agar murid tidak lupa dengan pelajaran yang telah dipelajari sebelum ia mulai dengan pelajaran baru.
e. Memperagakan, untuk memungkinkan murid untuk menerima rangsangan belajar pada waktu dan tempat yang sesuai, misalnya dengan memberikan contoh.
f. Mengaktifkan respon murid, agar murid menjadi penghasil dan pemakai pengetahuan yang aktif.
g. Evaluatif, untuk menginterpretasikan respon murid dan memungkinkan murid mengevaluasi dirinya.
h. Umpan balik, untuk mendorong murid memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa alat pendidikan dibagi ke dalam tiga bagian :
1. Alat-alat yang memberikan perlengkapan berupa kecakapan berbuat dan pengetahuan hafalan. Alat-alat ini dapa disebut alat-alat untuk pembiasaan.
2. Alat-alat untuk memberi pengertian; membentuk sikap, minat dan cara-cara berfikir.
3. Alat-alat yang membawa ke arah keheningan batin, kepercayaan dan pengarahan diri sepenuhnya kepada-nya

G. Lingkungan (Konteks yang Mempengaruhi Suasana Pendidikan)
Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.
Lingkungan dalam pendidikan ada dua hal :
a. Lingkungan Alam
Lingkungan adalah segala makhluk hidup dan tak hidup di alam yang ada di Bumi yang berada diluar diri anak tersebut. Misalnya hewan, tumbuhan, iklim, air, gedung, dan lain-lain yang berpengaruh terhadap pendidikan.

b. Lingkungan Sosial
Yang temsuk lingkungan sosial adalah semua manusia yang berada diluar diri seseorang yang dapat mempengaruhi diri seseorang tersebut, baik secara lngsung maupun tidak lngsung. Menurut tempat pelaksanaaan pendidikan, lingkungan dibedakan atas :
1) Keluarga
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama sekaligus yang utama yang mempengaruhi pendidikan seorang anak. Untuk itu, dalam melaksanakan pendidikan orang tua hendaklah memperhatikan perkembangan anak.
2) Sekolah
Guru merupakan pengganti orang tua yang berperan dalam melaksanakan pendidikan di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, peran guru sangatlah berpengaruh terhadap tercapainya tujuan pendidikan tersebut.
3) Masyarakat
Pendidikan yang diperoleh seorang anak di lingkungan masyarakat bergantung pada kebiasaan masyarakat tersebut. Apabila lingkungan masyarakat tersebut baik maka juga akan berpengaruh baik terhadap perkembangan anak tersebut.






















DAFTAR PUSTAKA

Hasbullah.1997. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

http://qym7882.blogspot.com/2009/03/komponen-komponen-pendidikan.html

http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=1&ved=0CBQQFjAA&url=http%3A%2F%2Fblog.unsri.ac.id%2Friski02%2Fpengantar-pendidikan-%2Fpendidikan-sebagai-suatu-sistem-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar